Problem Solving

BAB I

PENDAHULUAN

  1.  Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu semakin berkembang pesat dan canggih seiring dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin hebat. Fenomena tersebut memunculkan adanya persaingan dalam berbagai bidang kehidupan diantaranya adalah dibidang pendidikan.

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan bangsa itu sendiri. Selain itu pendidikan merupakan wadah kegiatan yang dapat dipandang sebagai pencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu tinggi.

Pendidikan di Indonesia selalu mengalami penyempurnaan yang pada akhirnya menghasilkan suatu produk atau hasil pendidikan yang berkualitas. Berbagai usaha telah dilakukan dalam rangka meningkatkan  kualitas dan mutu pendidikan yang ada, sehingga mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang handal yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.  Perbaikan dan penyempurnaan ini meliputi perbaikan dalam sistem pendidikan ataupunhal yang  langsung dikaitkan dengan praktek pembelajaran.

Pembelajaran merupakan jantung dari pendidikan dalam suatu instansi pendidikan yang bersifat kompleks dan dinamis, sehingga tenaga-tenaga pendidikan terutama guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang efektif yang diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menarik, menyenangkan, dan bermakna. Sehingga peserta didik merasa termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di kelas.  Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapatmelakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.

Selama ini proses pembelajaran yang ditemui masih  secara konvensional, seperti ekspositori, drill atau bahkan ceramah. Proses ini hanya menekankan pada pencapaian tuntutan kurikulum dan penyampaian tekstual semata daripada mengembangkan kemampuan belajar dan membangun individu. Kondisi seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan dan aktivitas siswa seperti yang diharapkan. Akibatnya nilai-nilai yang didapat tidak seperti yang diharapkan, terutama pada mata pelajaran matematika. Pada mata pelajaaran matematika sebagian besar siswa masih mendapat nilai yang kurang memuaskan.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan dari tingkat SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas)  hingga PT (Perguruan Tinggi).  Matematika merupakan salah satu bidang  studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari jam pelajaran di sekolah, mata pelajaran matematika mempunyai jam yang lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran lain.

Sebagian besar siswa menganggap matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar mereka pada mata pelajaran matematika masih kurang memuaskan. Masalah lain yang sering timbul adalah pada proses pembelajaran siswa hanya pasif mendengarkan guru menjelaskan materi. Siswa hanya mendengarkan dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Mereka masih enggan bertanya, mengemukakan pendapatnya, dan enggan mengerjakan soal di depan kelas kalau tidak ditunjuk oleh gurunya.

Berbagai permasalahan tersebut muncul karena kurangnya keaktifan dari diri siswa sendiri atau mungkin siswa jenuh dengan strategi yang dipakai oleh guru selama ini. Penggunaan model yang monoton dapat mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar matematika. Seorang guru harus dapat menerapkan berbagai model pembelajaran yang bervariasi, yang bisa mengubah cara belajar siswa dari pasif menjadi aktif sehingga akan membuat siswa tertarik dan paham dengan apa yang diajarkan oleh guru.

Rendahnya keaktifan siswa dapat dilihat dari masih kurangnya keberanian siswa mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dari guru, mengemukakan pendapatnya dan mengerjakan soal latihan di depan kelas. Rendahnya keaktifan siswa terjadi karena rendahnya motivasi siswa dalam belajar, penyebab utama rendahnya motivasi siswa karena kurangnya variasi strategi pembelajaran yang tepat.

Selama ini yang terjadi pembelajaran hanya berpusat pada guru, dan siswa tidak dilibatkan secara aktif sehingga siswa masih kurang dalam kemampuan kerjasama dan kurang percaya diri atas kemampuan diri sendiri.  Untuk mengatasi  masalah tersebut agar tidak berkelanjutan maka perlu  diterapkan  strategi pembelajaran yang tepat, sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam  pembelajaran matematika. Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah metode  pembelajaran Problem Solving.

Menurut Karen  (2004: 1), model Problem Solving   adalah suatu  model  pembelajaran  yang  berpusat  pada  ketrampilan     pemecahan masalah,  yang  diikuti  dengan  penguatan  kreatifitas.  Ketika  dihadapkan dengan  situasi  pertanyaan,  siswa  dapat  melakukan  ketrampilan memecahkan masalah untuk memilih  dan mengembangkan  tanggapannya. Tidak  hanya  dengan  cara  menghafal  tanpa  dipikir,  ketrampilan   memecahkan   masalah   memperluas proses berpikir. Metode Problem  Solving  merupakan  salah  satu  metode alternatif  yang  dapat  digunakan  sehingga    keaktifan  siswa  akan    menjadi lebih  baik.  Penerapan  metode Problem  Solving  dalam pembelajaran  matematika  melibatkan  siswa  untuk  dapat bersikap  aktif dalam proses pembelajaran.

2.   Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah penerapan strategi problem solving dalam memecahkan masalah matematika pada siswa kelas 7?
  2. Bagaimanakah penerapan strategi problem solving dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri, aritmatika dan aljabar pada siswa kelas 7?

3.  Tujuan Review Artikel

  1. Tujuan umum
  2. Untuk memenuhi tugas membuat makalah pada mata kuliah Penelitian Pembelajaran Matematika.
  3. Agar makalah ini dapat dipakai sebagai bahan bacaan bagi mereka yang membutuhkan.
  4. Dengan selesainya makalah ini, bagi penulis sendiri memberikan ilmu tersendiri.
  5. Memahami konsep strategi problem solving dalam memecahkan masalah matematika.
  6. Mampu memahami langkah-langkah pembelajaran problem solving.

2.   Tujuan khusus

  1. Untuk mengetahui penerapan strategi problem solving dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri, aritmatika, dan aljabar.
  2. Untuk dapat mengetahui penggunaan strategi problem solving pada siswa kelas 7.

4.   Manfaat Review Artikel

  1. Manfaat teoritis

Hasil review ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan pada tingkat teoritis kepada pembaca dalam meningkatkan pemahaman materi siswa terhadap mata pelajaran matematika khususnya pokok bahasan geometri, aritmatika, dan aljabar melalui metode Problem Solving. Serta dapat menambah khazanah keilmuan yang berkaitan dengan metode pembelajaran Problem Solving.

2.   Manfaat praktis

Hasil review ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk guru, siswa dan sekolah.

  1. Bagi siswa dapat memberikan kesempatan untuk meningkatkan pemahaman dalam menguasai materi dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Bagi guru dan sekolah review ini diharapkan dapat meningkatkan perbaikan pembelajaran matematika serta meningkatkan prestasi belajar matematika.
  3. Bagi sekolah hasil review ini memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan pembelajaran matematika.

BAB II

KAJIAN TEORI

A.   Definisi Problem Solving

Pemecahan masalah ( problem solving ) didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan atau ketidaksesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil hasil yang diinginkan ( Hunsaker,2005 ).

Mu’Qodin ( 2002 ) mengatakan bahwa problem solving adalah merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang dicapai dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

Berdasarkan dari beberapa definisi problem solving yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa problem solving merupakan suatu keterampilan yang meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi dan mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif sehingga dapat mengambil suatu tindakan keputusan untuk mencapai sasaran.

Menurut John Dewey, sebagaimana dikutip oleh Saiful Bahri Djamarah, belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagai berikut: “Individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga menemukan adanya semacam kesulitan.” (Djamarah, Saiful Bahri. 1996 : 103).

Metode problem solving adalah salah satu metode mengajar yang digunakan oleh guru dalam kegiatan proses pembelajaran. Metode problem solving ini merupakan metode mengajar untuk menstimulasi peserta didik dalam berpikir yang dimulai dan mencari data sampai merumuskan kesimpulan, sehingga dengan metode problem solving ini peserta didik dapat memberi makna apa yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran.

B.   Bentuk-bentuk Problem Solving

Ada beberapa bentuk dalam problem solving menurut Chang, D’Zurilla dan Sanna (2004), yaitu:

  1. Rational Problem Solving

Sebuah bentuk problem solving yang konstruktif yang didefinisikan seperti rasional, berunding dan aplikasi yang sistematik dalam kemampuan menyelesaikan masalah. Model ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu:

a.   Identifikasi Masalah

Problem solver memncoba mengelompokkan dan mengerti masalah yang dihadapi  dengan mengumpulkan banyak spesifikasi dan fakta konkrit tentang kemungkinan masalah, mengidentifikasi permintaan, rintangan dan tujuan yang realistik dalam menyelesaikan masalah.

b.   Mencari Solusi Alternatif

Fokus pada tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba untuk mengidentifikasi banyak solusi yang memungkinkan termasuk yang konvensional.

c.   Mengambil Keputusan

Problem solvers mengantisipasi terhadap keputusannya dalam solusi yang berbeda, mempertimbangkan, membandingkan dan kemudian memilih yang terbaik atau solusi yang efektif yang paling berpotensial.

d.   Mengimplementasi Solusi dan Pembuktian

Seseorang harus berhati-hati dalam menerima dan mengevaluasi solusi yang menjadi pilihan setelah mencoba untuk melaksanakan solusi tersebut kedalam situasi masalah dalam kehidupan nyata.

2.   Mengabaikan Kata Hati

Ini adalah salah satu pola karakteristik penyelesaian masalah yang difungsional dalam usaha aktif yang digunakan dalam strategi menyelesaikan masalah dan tekhniknya, tetapi usaha ini menyempit, implosif, berhati-hati, sangat cepat, dan tidak lengkap.

3.   Bentuk Menghindari Masalah

Bentuk ini adalah salah satu karakteristik penyelesaian masalah yang disfungsional berupa penundaan, pasif atau tidak melakukan apapun dan ketergantungan.

C.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Problem Solving

Menurut Rahmat (2001) terdapat 4 faktor yang mempengaruhi proses dalam problem solving yaitu motivasi, kepercayaan dan sikap yang salah, kebiasaan dan emosi.

  1. Motivasi

Motivasi yang rendah akan mengalihkan perhatian, sedangkan motivasi yang tinggi akan membatasi fleksibilitas.

2.   Kepercayaan dan Sikap yang Salah

Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan kekayaan material, kita akan mengalami kesulitan ketika memecahkan penderitaan batin kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat menghambat efektifitas pemecahan masalah.

3.   Kebiasaan

Kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas menghambat pemecahan masalah yang efisien. Ini menimbulkan pemikiran yang kaku ( rigid mental set ), lawan dari pemikiran yang fleksibel ( flexible mental set ).

4.   Emosi

Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar terlibat secara emosional. Emosi ini mewarnai cara berpikir kita sebagai manusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi silit untuk berpikir efisien.

D.   Kelebihan dan kekurangan problem solving

  1. Kelebihan metode problem solving
    1. dapat membuat peserta didik menjadi lebih menghayati kehidupan sehari-hari
    2. dapat melatih dan membiasakan para peserta didik untuk menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil
    3. dapat mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik secara kreatif
    4. peserta didik sudah mulai dilatih untuk memecahkan masalahnya.
    5. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
    6. Berpikir dan bertindak kreatif.
    7. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
    8. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
    9. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
    10. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
    11. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

2.   Kekurangan metode problem solving

  1. memerlukan cukup banyak waktu
  2. melibatkan lebih banyak orang
  3. dapat mengubah kebiasaan peserta didik belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru
  4. dapat diterapkan secara langsung yaitu untuk memecahkan masalah
  5. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
  6. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
  7. Kesulitan yang mungkin dihadapi

Beberapa kesulitan yang berarti mungkin ditemukan ketika mengasimilasikan problem solving matematika ke dalam praktek pengajaran di kelas.

  1. Kurangnya pengetahuan dan keahlian guru dalam menerapkan problem solving (teachers lack of the problem solving and modelling skills).
  2. Isi dari kurikulum sangat padat dan tidak ada celah untuk problem solving (the curriculum content is very full and there is no room for problem solving).
  3. Sistem pengujian (assessment system) masih disentralkan dan ini tidak relevan dengan gagasan problem solving dikarenakan jenis tesnya cenderung dan dominan berbentuk pilihan ganda (multiple choice form). Jenis tes ini tidak memberikan kesempatan pada anak untuk berfikir sebagaimana yang mereka lakukan pada proses problem solving.
  4. Besarnya jumlah siswa (the large number of students) dalam setiap kelas juga merupakan salah satu hambatan yang cukup berarti. Karena ini bisa menyebabkan sulitnya bagi guru untuk berinteraksi dengan muridnya ketika problem solving matematika diimplementasikan.
  5. Perlu waktu yang lebih (need more time) baik dalam pencarian atau pendesainan problem (sebab setiap problem perlu disusun dengan hati-hati untuk mencapai hasil belajar siswa) maupun berlangsungnya aktivitas problem solving (problem solving progress) di kelas.

Dari penjelasan tersebut di atas, memang tidak ada keraguan bahwa ada sejumlah kesulitan dalam asimilasi problem solving ke dalam pengajaran matematika, tapi keuntungan yang ada jauh melebihi dari pada hambatan yang ditemukan.

  1. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan

Dalam upaya untuk mengembangakan strategi pengajaran problem solving, ada beberapa aspek yang perlu difikirkan. Sebagaimana Pengelly (1989, h. 2) menyatakan bahwa ketika mengembangkan problem solving skills, terutama dalam hal mendesain permasalahan, guru perlu memperhatikan latar belakang matematika anak. Disamping, strategi pembelajaran problem solving perlu melakukan penyeleksian persoalan yang layak (appropiate) untuk muridnya. Permasalahan yang dipilih harus menantang (challenging), terbuka untuk berbagai cara penyelesaian (variety of method of solution), dan nampak sedikit matematikanya (low in mathematical content) (Hodgson, 1989, h. 350).

Berkaitan dengan hal ini, Thompson (1989, h. 275) menyarankan bahwa perlu menyeimbangkan tingkat kesulitan. Jika problem terlalu sulit dan murid murid tidak mampu memecahkan maka mereka mungkin akan menjadi putus asa (disillusioned) dan motivasinya menjadi melemah (waiver). Jika permasalahan yang dihadapi oleh murid terlalu mudah, menyebabkan mereka tidak tertantang dan sekali lagi mereka akan kehilangan motivasi. Sebagai tambahan, Schoenfeld (dikutip di Taplin, diakses: 5 Maret 2001) juga menyarankan bahwa permasalahan yang baik haruslah sebuah persoalan yang dapat diperluas untuk dieksplorasi secara matematik (mathematical explorations) dan digeneralisasikan.

2.   Langkah-langkah pemecahan masalah

Dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, terutama dalam kepemimpinan sebuah organisasi (kelas), ada beberapa langkah yang harus dilalui, yaitu:

  1. Menganalisa Masalah

Pada bagian ini, kita dituntut untuk bisa menganalisa atau melakukan diagnosa terhadap sebuah masalah, kejadian, peristiwa atau situasi supaya kita bisa fokus pada masalah yang sebenarnya. Seringkali orang dalam mela-kukan pemecahan masalah terjebak pada gejala-gejala yang timbul dari masalah tersebut.
Agar kita bisa memfokuskan perhatian kita pada masalah sebenarnya, dan bukan pada gejala-gejala yang muncul, maka dalam proses mendefenisi-kan suatu masalah, diperlukan upaya mencari informasi yang diperlukan sebanyak-banyaknya. Dengan demikian diharapkan, kita bisa mendefensi-kan masalahnya dengan tepat dan benar.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari pendefenisian masalah yang baik :

  1. Fakta dipisahkan dari opini atau spekulasi. Data objektif harus dipisah-kan dari persepsi.
  2. Semua pihak yang terlibat diperlukan sebagai sumber informasi.
  3. Masalah harus dinyatakan secara tegas. Hal ini seringkali dapat meng-hindarkan kita dari pembuatan defenisi yang tidak jelas.
  4. Defenisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas adanya ketidak-sesuaian antara standar atau harapan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kenyataan yang terjadi.
  5. Defenisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan dengan terjadinya masalah itu.

2.   Membuat Alternatif Pemecahan Masalah

Setelah kita berhasil mendiagnosa masalah tersebut dengan tepat dan benar, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah membuat sejumlah alternatif pemecahan masalah. Pada tahap ini, kita diharapkan dapat memi-lih hanya satu solusi, sebelum alternatif solusi-solusi yang ada diusulkan. Dengan memilih satu solusi masalah yang ditawarkan akan menjadikan kualitas pemecahan masalah lebih efektif dan efesien.

Ada beberapa karakteristik pembuatan masalah yang harus diperha-tikan, yakni :

  1. Semua alternatif yang ada sebaiknya diusulkan dan dikemukakan terle-bih dahulu sebelum kemudian dilakukan evaluasi.
  2. Alternatif-alternatif yang ada, diusulkan oleh semua orang yang terlibat dalam penyelesaian masalah. Semakin banyak orang yang mengusulkan alternatif, semakin bagus pula untuk meningkatkan kualitas solusi dan penerimaan kelompok.
  3. Alternatif-alternatif yang diusulkan harus sejalan dengan tujuan atau kebijakan organisasi. Kritik dapat menjadi penghambat, baik terhadap proses organisasi maupun proses pembuatan alternatif pemecahan masalah.
  4. Alternatif-alternatif yang diusulkan perlu mempertimbangkan konse-kuensi yang muncul dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
  5. Alternatif-alternatif yang ada saling melengkapi satu dengan yang lain. Gagasan yang kurang menarik, bisa menjadi gagasan yang menarik bila dikombinasikan dengan gagasan-gagasan lainnya.
  6. Alternatif yang diusulkan harus dapat menyelesaikan masalah yang telah didefenisikan dengan baik. Masalah lainnya yang muncul, mungkin juga penting. Namun dapat diabaikan bila tidak secara langsung mempenga-ruhi pemecahan masalah utama yang sedang terjadi.

3.   Mengevaluasi Alternatif-alternatif

Setelah kita berhasil mengenali karakteristik pembuatan alternatif tersebut di atas, kita perlu pula untuk mengevaluasi alternatif-alternatif pemecahan masalah yang telah diambil. Pada tahap ini, kita dituntut untuk berhati-hati memberikan penilaian keuntungan dan kerugian terhadap alternatif-alternatif yang diambil. Agar kita tidak terjebak pada kesalahan dalam penentuan solusian atau pemecahan masalah, maka pada tahap evaluasi ini kita harus memperhatikan :

  1. Tingkat kemungkinannya untuk dapat menyelesaikan masalah tanpa menyebabkan terjadinya masalah lain yang tidak diperkirakan sebelum-nya.
  2. Tingkat penerimaan dari semua orang yang terlibat di dalamnya.
  3. Tingkat kemungkinan penerapannya.

Berikut ini adalah karakteristik-karakteristik dari evaluasi alternatif pemecahan masalah yang baik :

  1. Alternatif-alternatif yang ada dinilai secara relatif berdasarkan suatu standar yang optimal, bukan sekadar standar yang memuaskan.
  2. Penilaian terhadap alternatif-alternatif yang ada dilakukan secara siste-matis, sehingga semua alternatif yang diusulkan akan dipertimbangkan.
  3. Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan organisasi dan mempertimbangan pandangan-pandangan dari orang lain yang terlibat di dalamnya.
  4. Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan dampak yang mung-kin ditimbulkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  5. Alternatif yang paling dipilih dinyatakan secara tegas.

4.   Rencana Tindak Lanjut

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah penerapan solusi yang telah kita pilih pada bagian pencarian alternatif pemecahan masalah. Pada bagian ini, seorang penentu kebijakan harus peka pada keadaan yang mungkin timbul terhadap solusi yang dijalankan, karena bagaimana pun, setiap solusi yang ditawarkan selalu ada titik balik yang kemungkinan ada reaksi negatif.
Berikut ini adalah karakteristik dari penerapan dan rencana tindak lanjut yang efektif :

  1. Penerapan solusi dilakukan pada saat yang tepat dan dalam urutan yang benar. Penerapan tidak mengabaikan faktor-faktor yang membatasi dan tidak akan terjadi sebelum tahap 1, 2, dan 3 dalam proses pemecahan masalah dilakukan.
  2. Penerapan solusi dilakukan dengan menggunakan strategi “sedikit demi sedikit” dengan tujuan meminimalkan terjadinya perlawanan dan me-ningkatkan dukungan.
  3. Proses penerapan solusi meliputi juga proses pemberian umpan balik. Berhasil tidaknya penerapan solusi, haris dikomunikasikan, sehingga terhadi proses pertukaran informasi.
  4. Keterlibatan dari orang-orang yang akan terkena dampak dari penera-pan solusi dianjurkan dengan tujuan untuk membangun dukungan dan komitmen.
  5. Adanya sistem monitoring yang dapat memantau penerapan solusi secara berkesinambungan.
  6. Penilaian terhadap keberhasilan penerapan solusi berdasarkan atas terselesaikannya masalah yang dihadapi, bukan karena adanya manfaat lain yang diperoleh dengan adanya penerapan solusi ini. Sebuah solusi tidak dapat dianggap berhasil bila masalah yang menjadi pertimbangan yang utama tidak terselesaikan dengan baik, walaupun mungkin muncul dampak positif lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://antonwashere.blog.com/2010/03/02/problem-solving/

http://commfiles.com/communication/teknik-memecahkan-masalah/

http://musriadi.multiply.com/journal/item/37/MAKALAH_PROBLEM_SOLVING

http://p4tkmatematika.org/file/problemsolving/TipsPenerapanProblemSolving-smd.pdf

http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2116421-kelebihan-dan-kekurangan-metode-problem/

http://sutimbangngawan.blogspot.com/2009/06/metode-problem-solving.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s